Perahkah anda sadar bahwa ternyata ada cikal makanan ringan bangsa kita yang bisa dipastikan nantinya menjadi makanan global. Kalau rendang padang saja oleh pemprov Sumatera Barat mau didaftarkan hak ciptanya sebagai makanan khas Indonesia, karena kuatir nanti akan diklaim sebagai makanan khas orang Melayu oleh negara Malaysia, maka buru-buru oleh sekelompok orang Minang yang peduli dengan makanan nasional di-hak-paten-kan.
Tidak halnya dengan makanan ringan lokal dari Jogja ini. Berangkat dari keinginan kuat pendiri makanan ringan khas Jogja, yakni empat sekawan sarjana lulusan yang nggak mau ngikutin mainstream kebiasaan lulusan sarjana untuk jadi karyawan. Mereka berempat, Eko Yulianto, Fath Aulia Muhammad, Asyari Tamimi dan Febri Triyanto memilih wiraswasta berjualan stick singkong goreng. Hanya berawal dengan modal sebuah gerobak berwarna merah kuning dan mereka ciptakan merk Tela-Tela, mereka berempat berhasil menarik konsumen penyuka cemilan gorengan, bukan saja di Jogjakarta, tapi juga seluruh Indonesia setelah beberapa tahun kemudian. Maka tagline Tela-Tela yang terkenal "Singkong Gaul dengan Segudang Rasa" kini semakin sering nongol di berbagai media massa termasuk TV, seperti Kick Andi. Terbukti dengan setelah tayangan di Kick Andi, beberapa calon prospek pewaralaba (franchisor) menelpon dan berdatangan ke kantor pusatnya yang ada di Jogjakarta itu.
Keinginan kuat para pengusaha muda ini untuk mengangkat derajat singkong agar "selevel" dengan cemilan impor, juga didorong alasan untuk memberdayakan para petani singkong. Pengalaman berlari-lari mendorong gerobak sambil menenteng wajan berisi minyak goreng karena dikejar-kejar Satpol PP saat pertama kali berjualan, tak mematahkan semangat mereka. Hanya dalam waktu 2 tahun, sekitar 1200 outlet Tela-tela di seluruh Indonesia, telah memberikan omzet bagi 4 sekawan ini 2-3 Miliar per bulan. Dan kisah sukses ini pulalah yang membuat pasangan suami istri Hendro dan Esti membuka frenchise (waralaba) di Kota Bekasi.
Berangkat dengan modal 10 juta rupiah, yang itu berarti bisa mendapatkan 2 gerobak Tela-Tela dengan sistem waralaba di tahun 2007, kemudian akhirnya menjadi agen produk Tela-Tela untuk wilayah Bekasi 2, yang kini semua telah berjumlah 20 outlet. Dua outlet milik mereka dan delapanbelas outlet milik pewaralaba lainnya, kini sudah menyebar dengan radius terdekat 1km dari titik-titik lokasi outlet.
Jadi menurut Hendro, agen Tela-Tela wilayah Bekasi 2, mereka berdua memang sekarang lebih memfokuskan pada pengembangan jaringan waralaba, dimana sebagai agen Tela-Tela dia kini mampu mendistribusikan 200 s/d 300 bungkus tela beku yang siap dipasarkan dalam waktu 2 - 3 hari habis. Melihat itu kelanakuliner.com (dobeldobel.com) menghitung setidaknya, jika setiap bungkus tela beku bisa menghasilkan 6 pak Tela-Tela, maka ada 1200 - 1800 pak beredar di wilayah Bekasi. Sungguh suatu jumlah yang lumayan besar untuk pengusaha pemula.
Menurut Hendro, suami Esti, guru sebuah SMA negeri di Bekasi ini, dulunya ia berhenti dari perusahaan distributor consumer product setelah 15 tahun kerja, dan ia lebih senang fokus untuk berwiraswasta berdagang Tela-Tela serta memperluas jaringan waralaba Tela-Tela.
Kelebihan utama Tela-Tela untuk makanan yang nyaris serasa dengan frenchfries ini adalah keanekaragaman rasa yang sangat Indonesia. Apalagi harganya yang sangat terjangkau di kantong (Rp. 3.500,-/pak untuk Tela-Tela dan Rp.6.000,-/pak Frenchfries) bagi kebanyakan orang Indonesia.
Namun begitu menurut pengakuan Esti, kadang tiap daerah mempunyai omzet produk yang sesuai dengan demografi konsumennya. Misalnya untuk wilayah komplek perumahan di Taman Galaxi, omzet Kentang Goreng jauh lebih banyak dibandingkan dengan Tela Stick. Taman Galaxi bisa diklasifikasi sebagai konsumen kelas menengah atas. Sedangkan untuk daerah perumahan seperti di wilayah kediamannya Tytyan Kencana, Tela stick omzetnya jauh lebih besar.
Melihat perkembangan omzet dan minat pasar konsumennya, Hendro dan Esti juga akan memasarkan produk nugget (dengan bahan dasar singkong juga) Tela-Tela. Melihat bentuk, dobeldobel.com memperkirakan rasanya mungkin seperti combro, namun dalam ukuran yang lebih mini. Tapi jangan anda salah, ini bukan combro pada umumnya. Karena bila combro adalah parutan singkong yang kemudian diisi dengan misro berbumbu pedas dan gurih, sementara Nugget Tela-Tela adalah adonan singkong yang teksturnya seperti nugget daging ayam biasa, namun rasanya singkong khas dengan beragam rasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar